Senin, 04 Juli 2011

TEORI DASAR SISTEM PENDINGIN UDARA

PRINSIP KERJA PENDINGIN AIR

Pada dasarnya prinsip kerja pendingin air atau air-cooled chiller sama seperti sistem pendingin yang lain seperti AC dimana terdiri dari beberapa komponen utama yaitu evaporator, kondensor, kompresor serta alat ekspansi. Pada evaporator dan kondensor terjadi pertukaran kalor. Pada air-cooled chiller terdapat air sebagai refrigeran sekunder untuk mengambil kalor dari bahan yang sedang didinginkan ke evaporator. Air ini akan mengalami perubahan suhu bila menyerap kalor dan membebaskannya di evaporator.

Secara umum prinsip kerjanya adalah sebagai berikut. Refrigeran didalam kompresor dikompresikan kemudian dialirkan ke kondensor. Refrigeran yang mengalir ke kondensor mempunyai tekanan dan temperatur yang tinggi. Di kondensor refrigeran didinginkan oleh udara luar disekitar kondensor sehingga terjadi perubahan fase dari uap menjadi cair. Kemudian refrigeran mengalir menuju pipa kapiler dan terjadi penurunan tekanan.
Setelah keluar dari pipa kapiler, refrigeran masuk ke dalam evaporator. Di dalam evaporator refrigeran mulai menguap, hal ini disebabkan karena terjadi penurunan tekanan yang mengakibatkan titik didih refrigeran menjadi lebih rendah sehingga
refrigeran menguap. Dalam evaporator terjadi perubahan fase refrigeran dari cair menjadi uap. Pada evaporator ini terjadi perpindahan kalor yang bersuhu rendah, dimana air didinginkan oleh refrigeran. Kemudian refrigeran dalam bentuk uap tersebut dialirkan ke kompresor kembali.
Di dalam evaporator, air sebagai bahan pendingin sekunder yang telah didinginkan sampai temperatur tertentu kemudian dialirkan oleh sebuah pompa menuju koil-koil pendingin dalam ruangan. Air ini akan bersirkulasi terus menerus selama sistem
pendingin bekerja.

REFRIGERANT

Dalam sistem refrigerasi, refrigeran yang ideal minimal mengikuti sifat- sifat :
1. Tekanan Penguapan positif
Tekanan penguapan positif mencegah kemungkinan terjadinya kebocoran udara kedalam sistim selama selama operasi.
2. Tekanan pembekuan yang cukup rendah.
3. Suhu pembekuan harus cukup rendah,
Agar pemadatan refrigerant tidak terjadi selama operasi normal.
4. Daya larut minyak pelumas
Minyak yang digunakan sebagai pelumas dalam refrigerator, terutama pada sistim, harus mudah larut, karena bersentuhan lanmgsung dengan refrigeran.
5. Refrigeran yang murah.
6. Tidak mudah terbakar.
Uap refrigeran tidak boleh terbakar atau mengakibatkan kebakaran pada setiap konsentrasi dengan udara.
7. Mempunyai tekanan kondensasi yang tidak terlalu tinggi,
Karena dengan tekanan kondensasi yang tinggi memerlukan kompresor yang besar dan kuat,juga pipa-pipa harus kuat dan kemungkinan terjadinya kebocoran sangat besar.
8. Kekuatan dielektrik yang tinggi.
Sifat ini penting untuk kompresor hermetik, karena uap refrigeran berhubungan langsung dengan motor.
9. Mempunyai struktur kimia yang stabil,
tidak boleh terurai setiap kali dimampatkan, diembunkan, dan diuapkan.

1 komentar:

heru wijiartov mengatakan...

mantab bang,, saya juga alumni poltek negeri jakarta listrik nihh,, di ajar pa silo ga bang dulu :)